, ,

Peringatan Pakar ITS soal Retakan Tanah di Gunung Wilis Madiun

oleh -292 Dilihat
oleh

Meulaboh – Peringatan Pakar ITS Retakan tanah yang muncul di kawasan Gunung Wilis, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, kini menjadi perhatian serius para ahli kebumian. Setelah dilakukan pengamatan lapangan, pakar geoteknologi dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya memberikan peringatan dini agar pemerintah daerah dan warga sekitar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi longsor dan pergerakan tanah di area tersebut.

Fenomena retakan tanah ini pertama kali dilaporkan oleh warga di kawasan Desa Kare dan Desa Bodag, Kecamatan Kare, Kabupaten Madiun.


Pakar ITS Turun Tangan

Peringatan Pakar ITS
Peringatan Pakar ITS

Baca Juga : Hadji Kalla Tegaskan Tak Terikat Putusan Gugatan yang Diklaim Menangkan GMTD

Tim peneliti dari Departemen Teknik Geofisika ITS yang dipimpin oleh Dr. Ir.

“Dari hasil pengamatan awal, retakan yang muncul ini bukan sekadar retakan permukaan biasa. Ada indikasi kuat bahwa tanah di area tersebut mengalami pergerakan massa tanah lambat (creeping) yang berpotensi berkembang menjadi longsor besar bila tidak segera ditangani,” ujar Dr. Budi, Kamis (7/11/2025).

Ia menjelaskan, retakan tanah di Gunung Wilis dipicu oleh kombinasi beberapa faktor, di antaranya intensitas hujan tinggi, kondisi lereng curam, lapisan tanah yang labil, serta aktivitas manusia seperti pembukaan lahan untuk pertanian.


Faktor Geologi dan Curah Hujan Jadi Pemicu

Pada musim hujan seperti sekarang, air meresap ke dalam lapisan tanah dan menyebabkan tekanan pori meningkat, sehingga memicu retakan.

“Tanah vulkanik di lereng Wilis memiliki porositas tinggi, sehingga air mudah masuk dan menambah beban lapisan di bawahnya. Ketika beban terlalu berat dan ada kemiringan, tanah akan bergeser pelan-pelan,” jelas Dr. Budi.

Selain itu, sebagian wilayah yang mengalami retakan ternyata berada di zona rekahan lama — wilayah yang sudah beberapa kali mengalami kejadian serupa di tahun-tahun sebelumnya, terutama saat musim hujan ekstrem.


Rekomendasi: Pemasangan Alat Pemantau dan Relokasi Sementara

Dalam laporannya, tim ITS merekomendasikan beberapa langkah mitigasi darurat. Pertama, pemerintah daerah diminta segera memasang alat pemantau gerakan tanah (crack meter dan inclinometer) untuk mengukur apakah retakan masih aktif bergerak. Kedua, warga yang tinggal tepat di jalur retakan disarankan untuk sementara mengungsi hingga kondisi dinyatakan aman.

“Langkah paling penting sekarang adalah pencegahan. Jangan menunggu retakan berkembang jadi longsor besar. Jika tanda-tanda pergerakan tanah makin kuat, relokasi sementara perlu dilakukan,” tegas Dr. Budi.


BPBD Madiun Siaga

Menanggapi peringatan itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Madiun langsung menerjunkan tim gabungan ke lokasi. Kepala BPBD Madiun, Heru Setiawan, mengatakan pihaknya sudah memasang garis peringatan dan meminta warga di sekitar lereng berhati-hati.

“Kami sudah koordinasi dengan pemerintah desa dan tim dari ITS. Saat ini, sekitar 12 kepala keluarga di sekitar titik retakan diminta bersiap jika sewaktu-waktu harus dievakuasi,” kata Heru.


Warga Mulai Cemas

Sementara itu, warga di sekitar lokasi retakan mengaku mulai khawatir, terutama setelah hujan deras mengguyur wilayah itu hampir setiap sore. Beberapa warga bahkan mengaku mendengar suara gemeretak halus dari dalam tanah, tanda bahwa pergerakan tanah sedang berlangsung.

Skintific

No More Posts Available.

No more pages to load.